
batampos – Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin dekat menuju tercapainya kesepakatan damai yang berpotensi mengakhiri ketegangan panjang di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah rincian draf perjanjian mulai terungkap, termasuk rencana perpanjangan gencatan senjata, isu program nuklir Iran, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz.
Laporan sejumlah media internasional menyebut kedua negara telah menyepakati kerangka dasar perjanjian dan kini bersiap menuju tahap penandatanganan memorandum of understanding (MoU) secara elektronik dalam waktu dekat.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, disebut memainkan peran penting sebagai mediator dalam proses negosiasi yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
“Teks final kesepakatan telah disetujui oleh para pihak,” kata Shehbaz Sharif seperti dikutip dari Axios, Minggu (14/6).
Setelah penandatanganan dilakukan, kedua negara dijadwalkan melanjutkan pembahasan teknis guna menyusun mekanisme implementasi berbagai poin yang tercantum dalam kesepakatan tersebut.
Salah satu poin utama dalam draf perjanjian adalah perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Langkah itu dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi proses negosiasi lanjutan menuju penyelesaian konflik yang lebih permanen.
Kesepakatan juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu titik ketegangan utama di kawasan. Jalur pelayaran strategis tersebut memiliki peran vital dalam distribusi energi dunia sehingga setiap gangguan dapat memengaruhi pasar global.
Di bidang nuklir, Amerika Serikat menginginkan Iran menghentikan pengembangan senjata nuklir, membatasi aktivitas pengayaan uranium, serta membuka akses pengawasan yang lebih luas kepada lembaga internasional terhadap fasilitas nuklirnya.
Sebagai bagian dari kompromi, Washington dikabarkan membuka peluang pelonggaran sanksi ekonomi secara bertahap. Namun pelaksanaannya akan disesuaikan dengan tingkat kepatuhan Iran terhadap komitmen yang telah disepakati.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa tujuan utama perjanjian tersebut adalah memastikan Iran tidak memiliki maupun mengembangkan senjata nuklir di masa depan.
Meski demikian, sejumlah pejabat Iran membantah bahwa Teheran telah menyetujui penghentian total program nuklir nasional. Mereka menegaskan masih ada sejumlah rincian penting yang belum mencapai kesepakatan final.
Perbedaan pandangan juga masih terjadi terkait mekanisme pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan serta tahapan pencabutan sanksi ekonomi.
Pemerintah Iran menginginkan manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih cepat setelah kesepakatan berlaku. Sebaliknya, Amerika Serikat menegaskan bahwa pelonggaran sanksi hanya akan dilakukan setelah proses verifikasi terhadap kepatuhan Iran selesai dilaksanakan.
Meski masih menyisakan sejumlah perdebatan, kemajuan dalam perundingan ini dipandang sebagai langkah diplomatik paling signifikan dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Apabila berhasil diwujudkan, kesepakatan tersebut berpotensi mengubah peta geopolitik kawasan Timur Tengah sekaligus memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi dan energi global. (*)
Artikel AS dan Iran Dikabarkan Segera Teken Kesepakatan Damai, Ini Isi Drafnya pertama kali tampil pada News.
Artikel AS dan Iran Dikabarkan Segera Teken Kesepakatan Damai, Ini Isi Drafnya pertama kali tayang di batampos.co.id.