
batampos – Rusia dilaporkan mengalami lonjakan korban militer sepanjang perang di Ukraina. Laporan terbaru menyebut hampir 40.000 personel menjadi korban hanya dalam Juni 2026, sementara laju perekrutan tentara baru disebut tidak lagi mampu menutupi besarnya kerugian di medan tempur.
Temuan tersebut diungkap Center for Strategic and International Studies (CSIS) dalam analisis terbaru mengenai perkembangan perang Rusia-Ukraina.
“Rusia mengalami sekitar 30.000 hingga 34.000 korban militer setiap bulan sepanjang paruh pertama 2026, sedangkan kemampuan merekrut personel baru hanya sekitar 27.000 orang per bulan,” tulis laporan CSIS, dikutip Minggu (5/7).
Menurut laporan itu, jumlah korban Rusia pada Juni 2026 diperkirakan mendekati 40.000 personel. Sekitar 26.000 di antaranya dilaporkan tewas, sedangkan sekitar 14.000 lainnya mengalami luka-luka.
Jika estimasi tersebut akurat, Juni menjadi bulan dengan korban terbesar bagi Rusia sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022.
CSIS memperkirakan total korban militer Rusia sejak perang dimulai telah mencapai sekitar 1,4 juta personel. Dari jumlah itu, sekitar 400.000 hingga 450.000 orang diperkirakan tewas.
Sementara itu, Ukraina diperkirakan mengalami 525.000 hingga 625.000 korban, termasuk sekitar 125.000 hingga 150.000 personel yang meninggal dunia.
Laporan tersebut juga mencatat perubahan rasio korban kedua belah pihak. Jika pada awal perang Rusia kehilangan sekitar dua hingga tiga prajurit untuk setiap satu korban di pihak Ukraina, pada paruh pertama 2026 perbandingan itu diperkirakan melebar menjadi hampir delapan banding satu.
Para analis menilai tingginya korban Rusia dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari strategi perang yang mengandalkan serangan berulang dengan tingkat korban tinggi, lemahnya koordinasi operasi gabungan, kualitas pelatihan yang dinilai kurang memadai, persoalan korupsi, hingga rendahnya moral pasukan.
Di sisi lain, Ukraina dinilai semakin efektif memanfaatkan drone, sistem pengintaian modern, dan pertahanan berlapis untuk menghambat laju ofensif Rusia.
Meski demikian, keuntungan teritorial Rusia sepanjang 2026 disebut relatif terbatas. CSIS menilai kemajuan pasukan Moskow jauh lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya sehingga biaya perang yang harus ditanggung semakin besar dibandingkan wilayah yang berhasil dikuasai.
Angka korban perang hingga kini masih sulit diverifikasi secara independen. Pemerintah Rusia juga tidak secara rutin memublikasikan data resmi mengenai jumlah tentara yang tewas maupun terluka.
Karena itu, estimasi CSIS dan sejumlah media Barat didasarkan pada analisis intelijen, data lapangan, serta berbagai sumber terbuka yang masih dapat berubah seiring perkembangan situasi perang. (*)
Artikel Rusia Kehilangan Nyaris 40.000 Tentara pada Juni 2026, Ini Penyebabnya pertama kali tampil pada News.
Artikel Rusia Kehilangan Nyaris 40.000 Tentara pada Juni 2026, Ini Penyebabnya pertama kali tayang di batampos.co.id.