batampos – Karnaval kemerdekaan biasanya identik dengan busana meriah dan berwarna-warni. Namun, di perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia di Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, ada penampilan berbeda yang berhasil mencuri perhatian warga.
Adalah Septi, warga Desa Genting Pulur, yang tampil unik dengan busana dari limbah mangrove. Ia merangkai daun bakau segar menjadi gaun, lalu memadukannya dengan batik mangrove khas daerah.
Sekilas tampak sederhana, namun dari dekat setiap helai daun itu menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya menjaga alam. Tak heran, banyak warga kagum, mengabadikan momen dengan berfoto, hingga memberikan apresiasi langsung.
“Pakaian ini bukan hanya soal keindahan. Ini cara kami memperkenalkan pentingnya menjaga ekosistem mangrove kepada masyarakat,” ujar Septi, anggota Komunitas Konservasi Mangrove, Penyu, Karang dan Alam (Kompak), Selasa (19/8).
Septi menuturkan, mangrove sering ditebang demi pembangunan, padahal bakau berfungsi sebagai benteng alami pesisir.
Lewat busana karnavalnya, ia ingin menunjukkan bahwa mangrove tak hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga memiliki nilai kreatif dan ekonomi.
Batik mangrove yang ia kenakan menjadi salah satu contohnya. Karya lokal itu lahir dari kearifan desa dan berpotensi menjadi produk unggulan.
“Harapan kami, batik mangrove bisa semakin dikenal, bukan hanya di Anambas, tapi juga nasional,” kata Septi.
Di tengah kemeriahan karnaval kemerdekaan, langkah anggun Septi dengan busana daun mangrove menghadirkan simbol pelestarian, kreativitas, sekaligus harapan bagi masa depan desanya. (*)
Reporter: Ihsan Imaduddin
Artikel Pesan Cinta Alam dari Gaun Mangrove di Karnaval Kemerdekaan Jemaja Timur pertama kali tampil pada Kepri.
Artikel Pesan Cinta Alam dari Gaun Mangrove di Karnaval Kemerdekaan Jemaja Timur pertama kali tayang di batampos.co.id.