batampos – Dinding-dinding di kawasan Nagoya Citywalk berubah menjadi kanvas raksasa akhir pekan ini. Puluhan seniman graffiti dari dalam dan luar negeri berkumpul dalam International Graffiti Festival 2026 bertajuk Wave of Wall sebuah perhelatan yang semula digagas sederhana, namun menjelma menjadi panggung lintas negara.
Digelar selama dua hari, Sabtu (11/4) hingga Minggu (12/4), festival ini menghadirkan perupa jalanan dari Singapura, Malaysia, Thailand, hingga sejumlah negara lain. Kehadiran mereka, menurut Art Director Revino Arena, di luar dugaan.
“Awalnya kami hanya ingin membuat acara skala Batam. Tapi setelah flyer dirilis, banyak seniman dari luar yang ingin ikut,” ujarnya.
Baca Juga: Batam Jadi Tuan Rumah Festival Graffiti Internasional, Seniman Dunia Ambil Bagian
Antusiasme itu datang tanpa dukungan fasilitas yang sepenuhnya siap. Revino mengakui, sebagian besar peserta mancanegara datang secara mandiri, memanfaatkan keberadaan mereka yang kebetulan tengah berada di kawasan Asia Tenggara.
“Mereka datang dengan senang hati, tanpa kami siapkan akomodasi secara penuh,” katanya.
Keterbatasan juga mewarnai proses persiapan. Festival ini dirancang dalam waktu kurang dari sebulan, bertepatan dengan periode setelah Ramadan, ketika ruang untuk mencari sponsor relatif sempit.
Alhasil, penyelenggaraan lebih banyak ditopang jejaring komunitas. Dukungan datang dari pelaku usaha lokal hingga pengelola lokasi acara yang memberi ruang bagi para seniman mengekspresikan karya.
Meski digelar secara terbatas, spektrum acara meluas. Festival ini tidak hanya menampilkan graffiti, tetapi juga merangkul berbagai komunitas budaya anak muda mulai dari skateboard, hip-hop, b-boy, hingga komunitas motor kustom. Perpaduan ini membentuk lanskap youth culture Batam yang kolaboratif.
Bagi penyelenggara, Wave of Wall bukan sekadar perayaan seni visual, melainkan upaya membangun jejaring global. Interaksi antar seniman dari berbagai negara diharapkan membuka peluang kolaborasi lintas batas di masa depan.
“Ini tentang menghubungkan artis dari berbagai negara, supaya ke depan bisa saling berkunjung dan bekerja sama,” kata Revino.
Di sisi lain, festival ini juga memiliki misi edukasi. Graffiti, yang kerap dipandang sebagai vandalisme, ingin diperkenalkan sebagai bagian dari seni jalanan yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa graffiti bisa menjadi karya visual yang menarik, bahkan menjadi mata pencarian,” ujarnya.
Isu regenerasi turut menjadi perhatian. Menurut penyelenggara, minat generasi muda Batam terhadap graffiti masih terbatas. Karena itu, festival ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mengenal dan menekuni seni tersebut. “Yang penting mulai dulu, nikmati prosesnya, dan konsisten,” kata Agung.
Festival ini menunjukkan kekuatan gerakan kolektif. Bagi para penggagasnya, keberhasilan edisi perdana ini menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh—dengan harapan dukungan yang lebih besar, termasuk dari pemerintah, agar gelombang seni dari dinding-dinding Batam terus berlanjut. (*)
Artikel Seniman Dunia Serbu Nagoya Citywalk, Dinding Jadi Kanvas Raksasa pertama kali tampil pada Metropolis.
Artikel Seniman Dunia Serbu Nagoya Citywalk, Dinding Jadi Kanvas Raksasa pertama kali tayang di batampos.co.id.