
batampos – Aktivitas pengiriman barang menggunakan kapal ferry di Kabupaten Kepulauan Anambas akhirnya kembali berjalan normal setelah sempat menimbulkan polemik beberapa waktu terakhir.
Sejak Jumat (8/5), sejumlah barang kebutuhan masyarakat mulai kembali diangkut dari Batam dan Tanjungpinang menuju Anambas menggunakan kapal ferry.
Barang yang dikirim meliputi sembako, sayur-mayur, bibit ayam hingga paket ekspedisi yang sebelumnya sempat tertahan akibat pembatasan pengiriman barang menggunakan ferry.
Tak hanya itu, pengiriman hasil perikanan dan pertanian dari Anambas menuju Batam maupun Tanjungpinang juga kembali berjalan sejak Sabtu (9/5).
Kondisi tersebut disambut lega masyarakat, terutama pedagang dan warga yang selama ini mengandalkan kapal ferry untuk distribusi bahan pokok cepat rusak.
Warga Tarempa, Fatimah, mengaku sempat khawatir karena stok kebutuhan pokok mulai menipis selama pembatasan pengiriman barang diberlakukan.
“Alhamdulillah sudah bisa mengirimkan barang pakai ferry. Kita sudah lega lah, kalau tak banyak bahan pokok yang bakal putus,” kata Fatimah, Minggu (10/5).
Menurut dia, sejumlah komoditas seperti cabai, kentang, wortel, bawang hingga sayur-mayur sempat terancam kosong di pasaran akibat distribusi terganggu.
Selama ini, pedagang lebih mengandalkan kapal ferry untuk mengangkut barang yang mudah busuk karena waktu pengiriman lebih cepat dibanding kapal barang biasa.
“Kalau barang yang tak cepat busuk tetap kita pakai kapal barang,” ujarnya.
Sementara itu, pihak pengelola kapal ferry menegaskan pengiriman barang tetap harus mengikuti aturan kapasitas dan keselamatan pelayaran.
Perwakilan pemilik kapal ferry, Santoni Anen, mengatakan pihaknya tidak pernah menolak pengiriman barang. Namun, diperlukan pengaturan yang jelas agar aktivitas bongkar muat berjalan tertib.
“Kami memang memiliki batasan kapasitas dan aturan yang harus dipatuhi. Diperlukan peran koordinator lapangan agar pengiriman berjalan teratur, tidak dilakukan secara sembarangan,” jelasnya.
Ia mengatakan kapal ferry tidak bisa langsung menerima seluruh permintaan pengiriman dalam jumlah besar tanpa mempertimbangkan daya angkut kapal dan aspek keselamatan pelayaran.
“Misalnya, jika ada permintaan pengiriman dalam jumlah yang sangat besar, kami tidak dapat memenuhinya begitu saja karena harus mempertimbangkan keamanan dan daya angkut kapal,” tegas Anen.
Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah sistem pengaturan distribusi yang lebih baik melalui koordinator lapangan agar kapasitas kapal tetap terjaga dan seluruh pengirim barang bisa mendapat pelayanan secara adil. (*)
Artikel Polemik Mereda, Kapal Ferry Kembali Layani Angkutan Hasil Laut Anambas pertama kali tampil pada Kepri.
Artikel Polemik Mereda, Kapal Ferry Kembali Layani Angkutan Hasil Laut Anambas pertama kali tayang di batampos.co.id.